Tampilkan postingan dengan label SMAN 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SMAN 1. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 September 2008

birthday of x5 gladiool angkatan 2006/2007







faya : 3 januari
diah : 6 januari
albert : 13 januari
rangga : 31 januari
FEBRUARI
aji : 19 februari
yoga : 27 februari
MARET
bayu : 4 maret
APRIL
uun : 10 april
pinto : 16 april
erisa : 20 april
indah : 27 april
imam : 28 april
MEI
childa : 25 mei
JUNI
amel : 4 juni
sheily : 4 juni
djoem : 6 juni
fahmi : 8 juni
aulia : 15 juni
uut : 17 juni
JULI
david : 8 juli
joel : 17 juli
nasya : 18 juli
AGUSTUS
maylin : 10 agustus
rahman : 10 agustus
uma : 27 agustus
SEPTEMBER
ivan : 9 september
ape : 12 september
septi : 24 september
OKTOBER
ardi : 6 oktober
kiki : 7 oktober
puji : 21 oktober
NOVEMBER
intan : 9 november
yona : 10 november
novia : 13 november
halim : 18 november
adam : 25 november
ria : 25 november
risma : 26 november
DESEMBER
zulfa : 14 desember
huda : 19 desember

kbersamaan kita kan selalu terpancar di hati....

birthday of X-Caba Cepaka 2006




nia : 23 Januari
endah : 11 februari
maya : 27 Maret
uun : 10 April
April : 13 April
imam : 28 April
teguh : 13 July
bidin : 11 Agustus
abe : 21 Agustus
Shella : 4 september
kiki : 7 Oktober
Prima : 2 Desember

kami, X-calon bantara cepaka SMA Negeri 1 Magelang sangatlah merindukan teman kami, Teguh, yang sampai saat ini tidak dapat diketahui keberadaannya. Ingin sekali kami bertatap muka dengannya dan mengucapkan, "maafkan segala khilaf, dan kau adalah bagian dari hidup kami." mungkin itulah perkataan yang akan kami ucapkan bila bertemu dengannya di bulan suci ramadhan ni....

data caba di atas belum lengkap, apabila ada yang tau tanggal lahir ibnu, uci, n dani, tolong tuangkan dalam comment

Jumat, 15 Agustus 2008

proposal pembuatan film

PROPOSAL
PEMBUATAN FILM
“DI BALIK RESTU”
KELAS XI IPA 3 SMA N 1 DEPOK BABARSARI

KELOMPOK 2



DAFTAR ISI

Halaman Judul……………………………………………………………………………i
Daftar Isi………………………………………………………………………………….ii

I. Latar Belakang……………………………………………………………………1
II. Tujuan…………………………………………………………………………….2
III. Sasaran……………………………………………………………………………3
IV. Pelaksana………………………………………………………………………….4
V. Waktu dan Tempat Pelaksanaan………………………………………………….5
VI. Hasil yang Diharapkan……………………………………………………………6
VII. Anggaran Biaya…………………………………………………………………...7
VIII. Penutup…………………………………………………………………………....8
IX. Pengesahan………………………………………………………………………...9



I. LATAR BELAKANG

Dalam kehidupan sehari-hari, kita hidup bermasyarakat. Setiap hari kita harus bersosialisasi dengan tetangga dan lingkungan sekitar agar terjalin hubungan yang baik. Dalam hal ini kita dituntut untuk dapat membiasakan diri terhadap adat-istiadat dan kebiasaan warga daerah setempat. Karena apabila tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar, kita akan merasa terasingkan dari kehidupan masyarakat sekitar.
Tergerak oleh hal tersebut, maka dalam rangka pemenuhan standar kompetensi pelajaran Bahasa Indonesia, siswa-siswi kelas XI IPA 3 SMA N 1 Depok Babarsari berniat untuk mengadakan pembuatan film “Di Balik Restu”. Dengan bermain peran, kita menjadi terbiasa untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana kita berada. Sehingga tidak timbul perasaan terkucilkan di hati siswa.


II. TUJUAN

Kegiatan pembuatan film “Di Balik Restu” dilakukan untuk memenuhi standar nilai kompetensi Bahasa Indonesia dalam Kurikulum Tingkat Standar Pendidikan 2007. Selain itu, kegiatan pembuatan film ini juga dimaksudkan untuk mengasah bakat siswa dalam bermain peran sehingga para siswa dapat membiasakan diri untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.
Kegiatan pembuatan film ini juga bertujuan agar siswa dapat mengikuti tuntutan perkembangan zaman. Dengan demikian siswa dapat menghibur masyarakat dengan menggunakan teknologi yang telah maju.


III. SASARAN

Sasaran kegiatan pembuatan film “Di Balik Restu” ini adalah para siswa itu sendiri dan juga masyarakat sekitar. Diharapkan kegiatan ini dapat mengembangkan bakat siswa dalam bermain peran. Pembuatan film ini juga diharapkan dapat menghibur masyarakat sekitar yang menontonnya.


IV. PELAKSANA

Kegiatan pembuatan film “Di Balik Restu” ini dilaksanakan siswa-siswi kelas XI IPA 3 SMA N 1 Depok Babarsari dengan susunan kepanitiaan sebagai berikut:
Pelindung : Riswiyanto M.P, S.Pd.
Penanggung jawab : Faisal
Penasehat : Dra. MM. Nuning, S.Pd.
Ketua : Imam Andrian Risoyo (11/XI IPA 3)
Wakil Ketua : Dyah Ayu Paramita (06/XI IPA 3)
Bendahara : Tegangatin (25/XI IPA 3)
Sekretaris : Veranita Yulia (26/XI IPA 3)
Seksi-Seksi : 1. Humas : Agatha Sarmade (01/XI IPA 3)
2. Transportasi : Ezar Elian (08/XI IPA 3)
3. Perlengkapan : Angga Jati Lorryan (02/XI IPA 3)
4. Konsumsi : Intan Reni Wulandari (12/XI IPA 3)
5. P3K : Erista Ayu (07/XI IPA 3)




V. WAKTU DAN TEMPAT PELASANAAN

Jadwal pelaksanaan pembuatan film “Di Balik Restu” diatur sebagai berikut:
Bagian Hari, tanggal Waktu Tempat
Pembukaan Kamis, 25-10-2007 14.00 WIB Sekolah
Scene 1 Sabtu, 22-10-2007 14.00 WIB Rumah Mita
Scene 2 Kamis, 25-10-2007 14.30 WIB Sekolah
Scene 3 Sabtu, 22-10-2007 14.30 WIB Rumah Mita
Scene 4 Kamis, 25-10-2007 15.00 WIB Rumah Ezar
Scene 5 Minggu, 4-11-2007 07.30 WIB Kaliurang
Scene 6 Minggu, 4-11-2007 08.30 WIB Kaliurang
Scene 7 Minggu, 4-11-2007 09.30 WIB Kaliurang
Scene 8 Minggu, 4-11-2007 10.30 WIB Kaliurang
Scene 9 Sabtu, 3-11-2007 14.00 WIB Rumah Intan
Scene 10 Sabtu, 3-11-2007 14.30 WIB Rumah Intan
Scene 11 Minggu, 4-11-2007 13.00 WIB Kaliurang
Scene 12 Minggu, 4-11-2007 14.00 WIB Kaliurang
Scene 13 Minggu, 4-11-2007 14.30 WIB Kaliurang
Penutup Sabtu, 22-10-2007 15.00 WIB Rumah Mita

Nb: Jadwal dapat berubah sewaktu-waktu.



VI. HASIL YANG DIHARAPKAN

Dengan pelaksanaan kegiatan pembuatan film “Di Balik Restu” ini diharapkan para siswa dapat bermain peran tidak hanya pada suatu pembuatan film, tetapi juga dalam interaksi dengan masyarakat sekitar. Diharapkan pula para siswa dapat mengembangkan bakat ini hingga ke bidang profesi.



VII. ANGGARAN BIAYA

Kegiatan pementasan drama ini memerlukan biaya sebesar Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) dengan rincian sebagai berikut:

Jenis Pemasukan Pengeluaran
Swadana
Humas
Perlengkapan
Transportasi
Konsumsi
P3K Rp 130.00,00





Rp 12.000,00
Rp150.000,00
Rp 20.000,00
Rp 60.000,00
Rp 8000,00

Kekurangan dana Rp 130.000,00
Rp 120.000,00 Rp 250.000,00
Rp 250.000,00


VIII. PENUTUP

Demikian proposal ini kami buat dengan harapan para donaturdapat memberikan bantuan sehingga kekurangan dana sebesar Rp 120.000,00 (seratus dua puluh ribu rupiah) dapat tertutup.
Atas kesediaan para donator untuk memberikan bantuan kepada kami, diucapkan terima kasih.


X. PENGESAHAN

Sleman, 19 September 2007
Panitia Pembuatan Film,
Ketua, Sekretaris,




Imam Andrian R. Veranita Yulia



Menyetujui, Mengetahui,
Guru Bahasa Indonesia, Kepala SMA N 1 Depok,




Dra. MM. Nunuing, S.Pd. Riswiyanto M.P, S.Pd.

tanah (pedosfer)

SMA NEGERI 1 MAGELANG, JAWA TENGAH
tugas geografi kelas X

OLEH:
1. ALBERT DWI PUTRANTO (X5/03)
2. IMAM ANDRIAN RISOYO (X5/14)
3. MUFID PINTO NUGROHO (X5/19)
4. NURRAHMAN WAHID (X5/23)
5. RANGGA DWI SAPUTRA (X5/26)



Tanah adalah akumulasi tubuh-tubuh alam yang bebasdan menduduki sebagian besar lapisan atas permukaan bumi. Tanah berasal dari tumbuhan atau zat-zat organic yang mengalami pelapukan. Factor terjadinya pelapukan:
1. Pemanasan matahari pada siang hari dan pendinginan pada malam hari.
2. Batuan yang sudah retak, pelapukan dipercepat oleh air.
3. akar tumbuh-tumbuhan dapat menerobos dan memecah batuan sehingga hancur.
4. Binatang kecil yang membuat lubang dan mengeluarkan zat-zat yang dapat menghancurkan batuan.
5. Pemadatan dan tekanan pada sisa-sisa zat organic akan mempercepat terbentuknya tanaman.

Jenis-jenis tanah:
1. Tanah podzolik merah kuning
Ialah tanah yang terjadi pada pelapukan batuan yang mengandung kwarsa pada iklim basah dengan curah hujan 2500-3500 mm/ tahun.
2. Tanah organosol
Ialah tanah yang terjadi dari bahan induk organic seperti gambut dan rumput rawa pada iklim basah dengan curah hujan >2500 mm/ tahun.
3. Tanah alluvial
Ialah tanah yang berasal dari endapan Lumpur yang dibawa melalui sungai.
4. Tanah kapur
Ialah tanah yang berasal dari batuan kapur yang umumnya terdapat di daerah pegunungan kapur berumur tua.
5. Tanah vulkanis
Ialah tanah yang berasal dari pelapukan batuan vulkanis, baik dari lava atau batu yang telah membeku (effusive) maupun dari abu vulkanis yang telah membeku (efflata).
6. Tanah pasir
Ialah tanah yang berasl dari batu pasir yang telah melapuk
7. Tanah humus/ bunga tanah
Ialah tanah yang terjadi dari tumbuhan yang telah membusuk.
8. Tanah laterit
Ialah tanah yang banyak mengandung zat besi dan alumunium.
9. Tanah gambut
Ialah tanah yang terjadi dari pelapukan tak sempurna mengandung batu bara.

Fungsi tanah:
1. Untuk tempat tinggal dan tempat melakukan kegiatan.
2. sebagai tempat tumbuhnya vegetasi yang sangat berguna bagi kepentingan hidup manusia.
3. Mengandung barang tambang atau bahan galian yang sangat berguna bagi manusia.
4. Tempat berkembangnya tumbuhan yang penting bagi hewan dan manusia.

Apabila erosi tanah, lapisan atas tanah akan rusak dan lingkungan alam lainnya ikut rusak. Factor terjadinya erosi:
1. Ditebangnya hutan secara liar sehingga tanah gundul.
2. Tidak adanya penyangga air pada tanah miring.
3. Tanah tidak dibuat tanggul pasangan sebagai penahan erosi.
4. Pada tanah berlumpur digunakan untuk penggembalaan liar.

Factor pembeda tanah:
a. Tekstur tanah
b. Permeabilitas tanah
c. Ketebalan atau solum tanah
d. Kemiringan lereng
e. Tingkat erosi
f. Penyaluran air

Asal warna tanah:
a. Kuning, dari mineral limonit.
b. Cokelat, dari bahan organis asam yang lapuk sebagian.
c. Putih, dari mineral-mineral silica-kuarsa, kapur, kaolin, bauksit, alumunium dan silikat, gypsum, nitrat, garam-garam yang telah larut serta koloida-koloida organis tertentu.
d. Hitam, dari bahan-bahan organis yang telah terurai dengan hebat.
e. Merah, dari mineral hematite atau turgit.
f. Hijau, dari oksida ferrous.
g. Biru, dari mineral lilianit.

Ciri-ciri tanah subur ialah tekstur dan struktur tanahnya baik, yaitu butir-butir tanahnya sedang, banyak mengandung garam yang berguna untuk tanaman tumbuhan, dan banyak mengandung air untuk melarutkan garam. Factor-faktor yang mempengaruhi tekstur tanah adalah komposisi mineral dan batuan, sifat dan cepatnya proses pembentukan tanah local, serta umur relative tanah.
Permeabilitas tanah ialah cepat atau lambatnya air meresap ke dalam tanah melalui pori-pori tanah baik secara vertical maupun horizontal yang ditentukan oleh tekstur tanah. Jenis tanah menurut kesuburannya:
a. Tanah muda
Unsur hara yang terkandung di dalamnya belum banyak sehingga belum subur.
b. Tanah dewasa
Unsur hara yang terkandung di dalamnya sangat banyak sehingga sangat subur.
c. Tanah tua
Unsur hara yang terkandung di dalamnya sudah berkurang.
d. Tanah sangat tua
Unsur hara yang terkandung di dalamnya sangat sedikit, bahkan hampir habis.

Tanah memerlukan unsur K, P, N, C, H, O, Na, Ca, S, Mg, Fe, Zn, B, Cu, DAN Mn untuk tumbuh dan berkembang. Apabila salah satu unsur tersebut tidak ada, maka tanaman yang ada tidak sempurna atau tidak bias tumbuh. Untuk itu dapat digunakan pupuk sebagai penggantinya. Pupuk ada 2 macam:
a. Pupuk alam (pupuk organic)
Yaitu pupuk yang dihasilkan dari sisa-sia tanaman, hewan, dan manusia seperti pupuk hijau, pupuk kandang, dan pupuk kompos.
b. Pupuk buatan (pupuk anorganik)
Yaitu pupuk yang dibuat dalam pabrik seperti pupuk tunggal dan pupuk majemuk.

Kesuburan tanah dapat dijaga dengan:
1. Pemupukan, diusahakan dengan pupuk alami.
2. Sistem irigasi yang baik.
3. Hutan cadangan pada lereng pegunungan.
4. Menanami lereng yang gundul.
5. Mengadakan pertanian di daerah miring secara benar.

Kemiringan lereng adalah kemiringan suatu lahan terhadap bidang horizontal. Semakin miring suatu tempat, maka akan semakin besar kemungkinan erosi atau longsornya. Untuk menjaga kestabilan pertanian di daerah miring diperlukan:
a. Terassering, yaitu penanaman tanaman dengan system berteras-teras.
b. Contour farming, yaitu menanami lahan menurut garis kontur.
c. Pembuatan tanggul pasangan untuk menahan garis erosi.
d. Contour plowing, yaitu bercocok tanam dengan cara membagi-bagi bidang tanah itu dalam bentuk sempit dan memanjang dengan mengikuti garis kntur.
e. Crop rolation, yaitu usaha pergantian jenis tanaman yang ditanm.
f. Reboisasi, menanami kembali hutan yang gundul.

Lahan kritis adalah lahan yang tidak produktif. Hal tersebut disebabkan oleh:
a. Kekeringan.
b. Genangan air yang terus-menerus.
c. Erosi tanah dan masswasting.
d. Pengolahan lahan yang kurang memperhatikan aspek-aspek kelestarian lingkungan.
e. Masuknya material yang dapat bertahan lama ke lahan pertanian.
f. Pembekuan air.
g. Pencemaran.

Upaya penanggulangan lahan kritis:
a. Lahan tanah digunakan seoptimal mungkin.
b. Erosi tanah perlu dicegah melalui pembuatan teras-teras pada lereng bukit.
c. Usaha reboisasi.
d. Perlu reklamasi lahan bekas pertambangan.
e. Perlu adanya usaha ke dalam program kali bersih (prokasih).
f. Pengelolaan terpadu di wilayah lautan dan daerah aliran sungai.
g. Pola pergiliran tanaman.
h. Perlu tindakan tegas bagi siapa saja yang merusak lahan yang mengarah pada lahan kritis.
i. Menghilangkan unsur-unsur yang mengganggu kesuburan lahan pertanian.
j. Pemupukan dengan pupuk organic.
k. Penggemburan tanah.
l. Menurunkan zat tercemar yang ada pada lahan pertanian dengan tumbuhan eceng gondok.

Lahan potensial adalah lahan yang belum dimanfaatkan atau belum diolah dan jika diolah akan mempunyai nilai ekonomi yang besar karena mempunyai nilai kesuburan yang tinggi dan mempunyai daya dukung terhadap kebutuhan manusia. Upaya-upaya peningkatan manfaat lahan potensial:
a. Merencanakan penggunaan yang digunakan manusia.
b. Menciptakan keserasian dan keseimbangan fungsi dan idensitas penggunaan lahan dalam wilayah tertentu.
c. Merencanakan penggunaan lahan kota agar jangan sampai menimbulkan dampak pencemaran.
d. Menggunakan lahan seoptimal mungkin bagi kepentingan manusia.
e. Memisahkan penggunaan lahn untuk pemukiman, industri, pertanian, perkantoran, dan usaha lainnya.
f. Pembuatan peraturan perundang-undangan yang meliputi pengalihan hak atas tanah untuk kepentingan umum dan peraturan perpajakan.
g. Melakukan pengkajian terhadap kebijaksanaan tata ruang, perijinan, dan pajak dalam kaitannya dengan konversi penggunaan lahan.
h. Di daerah pegunungan/ perbukitan perlu perlu diperhatikan teknologi pengolahan tanah, penghijauan, reboisasi, dan pembuatan sengkedan.
i. Perlu usaha pemukiman penduduk dan pengendalian peladang berpindah.
j. Mengelola dengan baik daerah aliran sungai, derah pesisir, dan daerah sekitar lautan.




==============================sekian=============================

di balik restu

pemain SMAN 1 Depok jogja
1. imam andrian risoyo
2. dyah ayu paramita
3. ezar elian
4. intan reni wulandari
5. angga jati loryan
6. veranita yulia
7. agatha sarmade
8. tegangatin
9. erista ayu

penulis skenario: imam andrian risoyo
dibantu: dyah ayu, veranita yulia, dan intan reni

Semenjak suaminya meninggal, Bu Made, harus merawat Tiara, anaknya, seorang diri. Semenjak saat itu ia mulai membatasi aktivitas Tiara sebagai murid SMA kelas 1.
Ibu : (menatap foto pak Made, menangis kemudian membaca puisi yang sejak tadi terletak di atas meja).
Ketika jiwa tinggalkan singgasana
Hati ini menunggu di nirwana
Penantian jemu yang lama
Tanpa senyum tuan putri

Sebuah ikatan ikrar cinta
Tak hapuskan memori
Meski tinggal raga
Rasa itu tetap mengendap di kalbu
Tak sekalipun mengelupas.
Suatu hari, Farel mengajak teman-temannya untuk merayakan ulang tahunnya di hutan cemara Kaliurang. Tak ketinggalan pula Tiara diajaknya. Akan tetapi Tiara menolaknya dengan alasan ibunya sendirian berada di rumah. Namun, Farel memaksanya hingga Tiara tak bisa mengelak.

Scene 1 (setting: rumah)
Sore harinya Tiara meminta izin kepada ibunya untuk pergi bersama teman-temannya di esok hari.
Tiara : “Mi, besok temanku ulang tahun…” (berbicara pelan sambil membaca majalah).
Ibu : (diam, acuh, mengaduk teh).
Tiara : “Rencananya akan dirayakan besok di Kaliurang…”
Ibu : (menoleh ke arah Tiara, masih diam).
Tiara : “Bo..bolehkan, Mi?” (memohon dengan perasaan takut).
Ibu : “jangan aneh-aneh!” (marah).
Tiara : (menunduk, diam).
Ibu : “Sudah, tinggal saja di rumah!!.” (berbicara sambil berbalik pergi).
Tiara : “Tapi Mi, Tiara sudah jan…” (mengejar ibunya sambil memohon).
Ibu : “Tidak ada tapi-tapian!!” (naik pitam).
Tiara : “Tolong Mi, kali ini saja.” (memohon).
Ibu : (acuh sambil berjalan menuju teras).

Scene 2 (setting: sekolah)
Keesokan harinya sepulang sekolah, Tiara meminta maaf kepada Farel karena tidak bisa pergi bersama Alexa, Alya, Aldo, Ratih, dan dia.
Tiara : “Maaf Rel, nanti sore aku tidak bisa ikut.”
Farel : “Ibumu lagi? Ayolah!” (memaksa). “Apa aku perlu membuat proposal agar ibumu mengizinkan?!”
Aldo : “Iya nih, jarang kan kita bisa pergi bersama.”
Ratih : “Ayolah Tir, temani kami!”
Alexa : “Huh, anak mami gitu loh!” (mengejek dengan ketus).
Ratih : “Diamlah kamu Alexa!” (marah).
Aldo : “Iya, kasihan kan Tiara!”
Tiara : (merunduk kemudian kembali) “Baik deh aku coba bujuk mami lagi.” (berbalik pergi untuk pulang).
Alya : “Kami tunggu ya!” (berteriak).

Scene 3 (setting: rumah)
Sesampainya di rumah, Tiara membujuk ibunya kembali agar diperbolehkan bergabung dengan teman-temannya. Ia menghampiri ibunya yang sedang memasak.
Tiara : “Izinkan Tiara berangkat Mi…..”
Ibu : (diam sejenak) “Perlu kau ketahui, banyak penculikan terjadi akhir ini!” (suara datar)
Tiara : “Tiara kan sudah besar, apalagi banyak teman di sana.”
Ibu : “Sama saja.” (jengkel).
Tiara : “Ayolah, sampai kapan Mami akan menahanku terus?” (mulai memaksa).
Ibu : (diam tak bisa menjawab).
Tiara : “Kalau saja papi…”
Ibu : (meneteskan air mata) “Pergilah! Jaga dirimu baik-baik!” (menuju kamar, meninggalkan Tiara sendirian).
Tiara : (bergegas mengambil peralatan lalu berhenti di depan kamar ibunya. Kemudian berjalan perlahan mendekati ibunya yang duduk termenung di atas ranjang) “Tiara pamit dulu ,Mi.” (bersuara pelan sambil mencium tangan ibunya lalu pergi).

Scene 4 (setting: rumah Farel)
Di rumah Farel, Ratih, sahabat Tiara, merasa aneh dengan tingkah sahabatnya tersebut.
Ratih : “Aneh sekali dirimu ini, ada apa? Katakanlah!”
Tiara : “Aku merasa bersalah karena harus memaksa mami.”
Ratih : “Salah gimana?”
Tiara : “Ya rasanya kita diikuti rasa dosa.”
Ratih : “Sudahlah, bukankah ibumu telah memberi izin? Udah jalani saja!”
Tiara : (tersenyum) “Benar banget, makasih ya!”
Ratih : “Itulah gunanya teman.”
Alya : “Semua sudah siap ayo kita berangkat!” (datang menghampiri Ratih dan Tiara).
Ratih : “Ayo!”
Farel : “Berangkat!” (berteriak kemudian semua berangkat)
Alexa : “Woi, tunggu!” (berteriak karena ketinggalan, tetapi semua tidak ada yang dengar, kemudian mengambil handphone di sakunya dan menelepon seseorang) “Al, gimana sih, aku jangan ditinggal dong! Kan aku belum begitu tahu Jogja!”
Alya : “Teman-teman tunggu, Alexa ketinggalan!” (berteriak kemudian semua anak berhenti mengendarai sepeda motor).
Ratih : “Apa? Alexa ketinggalan?”
Alya : “Iya.”
Farel : “Masak anak segede itu ketinggalan sih?”
Aldo : “Bukan anak gede, melainkan berdelapan! Ha….” (semua anak ikut tertawa).
Alya : (mengambil handphone dan menelepon Alexa) “Lex, kita tunggu di depan sekolah ya!”

Scene 5 (setting: hutan cemara)
Sesampainya di tempat tujuan, mereka segera mendirikan tenda.
Alexa : “Siapa yang tadi punya ide meninggalkanku?”
Alya : “Bukan aku, tapi dia!” (menunjuk Ratih).
Ratih : “Bukan aku, tapi dia!” (menunjuk Aldo).
Aldo : “Bukan, bukan aku! Tapi dia!” (menunjuk Farel).
Alexa : “Kalian kok malah tunjuk-tunjukkan. Sebenarnya siapa?” (marah).
Alya, Ratih, Aldo,Tiara : “Farel.”
Farel : “Lo, kok aku? Sembarangan kalian!”
Alexa : “Sudah, tidak usah banyak Bicara! Awas ya kamu!”
Semua : “Mengumpat tertawa.”
Dan setelah itu mereka berpisah untuk mencari kayu bakar dan air.
Farel : “Baiklah, mari kita bagi tugas untuk mengumpulkan kayu bakar dan mengambil air. Aldo, kau dan Alexa ikut aku mencari kayu bakar, sisanya tolong ambil air di sungai!”
Alexa : “Ih, malas. Masak aku sama Farel!”
Alya : “Udah, terima aja.”
Aldo : “Tapi, masak kita meninggalkan anak-anak perempuan ini sendirian, Rel!” (memprotes).
Farel : “Biarlah, sungai kan tak begitu jauh.”
Aldo : “Walaupun begitu mereka ini perempuan!” (marah).
Alya : “Udah gak apa-apa kita berani kok…”
Alexa : “Beneran nih? Gak nyesel?” (mengejek)
Alya : “Iya, iya! Lagian gak ada apa-apa kok!”
Alexa : “Nanti, kalo ada pocong gimana? Hih… atut….”
Alya : “Mana mungkin ada setan siang-siang begini.”
Aldo : “Bisa aja, kalo setannya buta gimana?”
Alya : “Ih, maksa!”
Ratih : “Tenang saja, kan ada aku!”
Akhirnya Alya, Tiara, dan Ratih berpisah dengan yang lain untuk melakukan tugas masing-masing. Mereka bertiga berjalan menuju sungai melalui jalan yang secara asal mereka lalui.
Ratih : “Sudah jauh nih kita berjalan, mana sih sungainya?” (sambil mengatur nafas karena kecapekan)
Tiara : “Iya nih, capek banget lagi!” (mengusap keringat di wajah).
Alya : “Aduh, kebelet pipis lagi! Bentar ya!” (berjalan menjauh menuju semak-semak).
Sementara itu ketika Alya sedang Buang air kecil, Tiara dan Ratih di dekati dua orang. Yang satu laki berperawakan besar, sedangkan yang satu lagi perempuan.
Nesya : “Burung gagak kena burik, mau tidak kalian kami culik?” (pantun).
Tiara : “Ih, mbaknya aneh ya, mau menculik pakai pantun segala!”
Ramon : “Bodoh, bukan begitu Nesya!” (kecewa) “Begini, tutup mulut kalian atau kami tembakkan pistol ini!” (menggertak, mengarahkan pistol ke jidat Ratih).
Ratih : “Huh, gak takut!! Masak mau nyulik pake pistol mainan! Itu sih, kayak punya adikku.” (tertawa, tangan dipegang Ramon).
Ramon : “Hah? Kok bisa?! Gimana sih kamu ngambilnya!! Bodoh!” (memarahi Nesya).
Nesya : “Habis yang asli aku lupa naruhnya, jadi aku ambil aja itu yang ada di atas meja.”
Ratih : “Lari….!!” (melarikan diri bersama Tiara).
Nesya : “Lo, kok malah pada lari!” (sedih).
Ramon : “Ya dikejar Nesya…” (menangis karena anak buahnya bodoh).
Nesya : (berlari mengejar diikuti Ramon) “Aduh, pagi-pagi udah disuruh lari-lari!” (mengeluh).
Tiara : “Aduh!!” (terjatuh).
Ratih : “Kamu gak apa-apa?”
Ramon : “Ayo tangkap mereka!! Wu…wu…wu..” (semangat gaya Indian).
Nesya : “Wu….wu…wuu…” (ikut-ikutan semangat hingga Tiara dan Ratih tertangkap).
Pada saat itu Alya telah kembali. Akan tetapi, ia melihat kejadian tersebut dari kejauhan sehingga dengan segera ia bersembunyi di balik sebuah pohon.
Ramon : “Nesya, tutup mulut mereka!” (sambil menahan tangan Ratih).
Nesya : “Baik.” (Menutup mulut Tiara dan Ratih dengan kedua tangannya).
Ramon : “Bukan begitu Nesya, tutup mulut mereka pakai plester!” (sangat sedih).
Nesya : “O begitu, bilang dong dari tadi!” (menutup mulut Tiara dan Ratih menggunakan plester).
Tiara : (ketakutan hingga pingsan).
Ratih : (berusaha melepaskan diri untuk menolong Tiara, tetapi tak berhasil) “Uhmm… Ummmm……Umm!!”
Nesya : “Ha…ha….ha… dasar bodoh!! Pakai acara pingsan segala.” (tertawa).
Ramon : “Ayo kita pergi dari sini!! Papah anak bodoh itu Nesya!” (berjalan pergi sambil menyeret Ratih).
Alya sangat ketakutan, ia berlari menjauh dari arah perginya penculik-penculik tersebut. Meski tersandung-sandung akar pohon, Alya berusaha untuk mencari Farel dan yang lainnya.
Alya : “Tolong……Tolong!!!” (berteriak sambil lari tergesa-gesa). “Aldo, Alexa, Farel… dimana kalian?”

Scene 6 (setting: hutan cemara)
Sementara itu, Aldo, Alexa, dan Farel telah kembali ke tenda.
Alexa : “Lama sekali yang lain!” (bosan)
Farel : “Iya nih, ada apa ya?” (cemas)
Aldo : “Ayo, cepat kita susul mereka!” (berdiri dari jongkok, lalu pergi mencari Tiara, Ratih, dan Alya).
Alexa : “Dasar lamban, ayo apa lagi? Cepat bantu Farel!”
Farel : (bengong) “Kamu?”
Alexa : “Ya kita berdua, bodoh!” (marah)
Akan tetapi, karena terlalu lama, mereka tak dapat mengejar Aldo. Sehingga mereka harus berpisah pula dengannya.

Scene 7 (setting: hutan cemara)
Telah jauh sekali Aldo mencari ketiga temannya.
Aldo : “Tiara….. dimana kalian?” (berteriak sambil berjalan cepat hingga jatuh tersandung batu) “Aduh, batu sialan!” (menggerutu) “Ratih……Alya……….. dimana kalian?”
Sayup-sayup ia mendengar teriakan Alya dan ia berusaha berlari ke arah suara tersebut. Namun, tiba-tiba kaki Aldo kram dikarenakan saat dia jatuh.
Aldo : “Auw, heh..!!!” (menggerutu)

Scene 8 (setting: hutan cemara)
Pada saat itu, Alexa dan Farel mendengar teriakan Alya. Lalu mereka berlari mendekati arah suara tersebut hingga akhirnya mereka bertemu dengan Alya.
Alya : “To…tolong…Tiara….Tiara dan Ratih… heh….heh…” (terengah-engah kecapekan)
Alexa : “ Mereka kenapa?” (cemas)
Alya : “Me…mereka….” (terengah-engah)
Farel : “Tenang, tenangkan dirimu dulu!”
Alya : “Mereka diculik!” (gaya ikan Dancow).
Farel dan Alexa : “Apa, mereka diculik?” (kaget)
Alya : “I,iya… maafkan aku gak bisa jaga mereka…” (menangis)
Alexa : (marah) “Ini salahmu!! Mengapa kau biarkan gadis-gadis ini sendirian?” (menunjuk Farel) “Dasar pengecut!!”
Farel : “Jangan seutuhnya salahkan aku!!! Ini berada di luar dugaan…” (membela diri)
Alexa : “Masa bodoh!!!” (acuh)
Alya : “Sudah,sudah!! Sebaiknya kita beri tahukan hal ini pada Bu Made.”
Farel : “Jangan, jangan bikin Bu Made cemas!”
Alexa : “Dasar bodoh! Emang kamu bisa melakukan apa?”
Alya : “Kalau begitu, sebaiknya kita cari Aldo terlebih dahulu karena ia lebih akrab dengan Bu Made.”
Akhirnya mereka bertiga bergegas mencari Aldo.
Alexa : “Aldo….. dimana kamu?” (berteriak)
Farel : “Aldo….!!” (teriak)
Aldo : “Aku di sini!!” (berteriak dari kejauhan).
Dengan segera mereka bertiga menghampiri Aldo.

Scene 9 (setting: rumah penculik)
Sementara itu, kedua penculik itu telah membawa Tiara dan Ratih ke sebuah rumah yang berada di dekat hutan itu.
Nesya : “Hey, bangun bodoh!” (membangunkan Tiara hingga kaget)
Tiara : “Dimana ini?” (bingung)
Nesya : “Tak perlu kau tahu! Ha…ha…”
Ratih : “Siapa kalian? Apa mau kalian?” (ketakutan)
Ramon : “Ha….Ha…Ha….aku Ramon, tak ada yang dapat mengalahkanku!” (tertawa)
Nesya : “Ha….Ha…Ha….begitu pula denganku! Ha…ha….ha…..!” (tertawa)
Ketika itu datang seekor kucing. Ternyata Nesya sangat ketakutan dan berlari menghindar. Hal tersebut membuat Tiara dan Ratih tersenyum geli.
Ramon : “Jaga mereka Nesya! Lebih baik aku meminta tebusan pada ibunya. Ha…ha…!!” (menunjuk Tiara).
Nesya : “Tepat sekali kau Ramon. Ha…ha…!”
Kemudian Ramon pergi untuk menelopon Bu Made.
Ibu : “Dengan Ibu Made di sini.” (mengangkat telapon)
Ramon : “ha…ha…ha… bagaimana kabarmu Made?” (memegang gagang telepon)
Ibu : “Siapa Anda?” (penasaran)
Ramon : “Sudahkah kau lupa padaku Made?”
Ibu : “Jawablah siapa Anda?” (suara mengeras)
Ramon : “Ramon. Ingatkah kau?”
Ibu : “Ramon yang…”
Ramon : “Ya, aku Ramon saingan kerja suamimu dulu. Ha..ha..ha….. sekarang saatnya pembalasanku Made!”
Ibu : “Maksudmu?” (cemas)
Ramon : “Sekarang putrimu ada di tanganku. Sediakanlah uang 500 juta bawa ke jalan Ikhlas besok jam 3 sore. Jangan coba-coba bawa polisi, kalau tidak nyawa anakmu akan terancam. Ha…ha….!!”
Ibu : “Tunggu….” (berusaha memutus pembicaraan, tetapi hubungan telepon telah putus). “Ya Tuhan!!” (mencoba menelpon seseorang.) “Halo.”
Farel : “Halo, ada apa tante?” (bingung)
Ibu : “Gak usah berlagak kamu!! Sekarang di mana Tiara?” (marah)
Farel : “Ti…Ti…Tiara ada kok tante.” (berusaha tenang)
Ibu : “Dimana dia sekarang?” (membentak)
Farel : “Ma… maaf tante, Tiara diculik.” (tiba-tiba sambungan telepon putus).
Scene 10 (setting: rumah penculik)
Ketika ditinggal pergi Ramon, Nesya menjaga Tiara dan Ratih seorang diri.
Ratih : “Ayo lakukan rencana kita.” (berbisik ke telinga Tiara)
Tiara : (menatap ke arah Nesya, seakan penglihatannya menuju ke arah belakang tubuh Nesya) “Pussy..” (seakan memanggil seekor kucing).
Nesya : “Waa…kucing..!!!!” (lari terbirit-birit)
Tiara : “Ketipu deh!!” (bersama Ratih melarikan diri)
Semenit kemudian Ramon datang dan terkejut begitu melihat ruangan tersebut hanya berisi Nesya yang menangis di sudut ruangan.
Ramon : “Di mana mereka?” (berang)
Nesya : “Me..mereka melarikan diri …. Uwaa!!” (menangis)
Ramon : “Dasar bodoh!! Gimana bisa terjadi?” (naik pitam)
Nesya : “Mereka tau kalo aku phobia kucing….hiks…”
Ramon : “Bodoh, kejar dong!” (lari berbalik dengan tergesa-gesa hingga tidak sadar bahwa pintunya ditutup sehingga tubuhnya terbentur pintu tersebut)
Nesya : (tertawa geli) “Ayo dong kejar!” (melompati Ramon yang jatuh, lalu berlari ke luar ruangan).

Scene 11 (setting: hutan cemara)
Sementara itu , di hutan cemara….
Farel : “Apa yang terjadi Aldo?” (cemas)
Aldo : “Oh, aku Cuma tergelincir kok! Ini juga udah baikan!” ( duduk, meringis, kemudian menoleh ke arah Alya) “Lo Alya, di mana Ratih dan Tiara?”
Alya : “Maaf Al, mereka diculik.” (sedih)
Aldo : “Apa?” (kaget)
Alexa : “Semua ini salahmu Rel!” (meremas kerah baju Farel dan berusaha memukulnya, tetapi tertahan oleh tangan Aldo)
Aldo : “Sudah, jangan sesali yang udah terjadi!”
Farel : “Tapi tetap aja dia penyebabnya!” (marah)
Alya : “Sudaa…ahh!!!” (berteriak marah)
Aldo : “Sekarang yang perlu kita lakukan adalah mencari tahu ke mana penculik-penculik itu membawa Ratih dan Tiara!”
Alexa : “Di mana mereka diculik, Alya?” (masih marah)
Alya : “Ayo ikut aku!” (berlari ke arah tempat Tiara dan Ratih diculik. Aldo, Alexa, dan Farel mengikuti dari belakang)

Scene 12 (setting: hutan cemara)
Aldo, Alexa, Farel, dan Alya telah sampai di tempat kejadian penculikan Ratih dan Tiara.
Farel : “Sial, mereka pasti sudah jauh.” (cemas)
Aldo : “Ayo berpencar, barangkali mereka meninggalkan jejak!”
Keempat anak itu berpencar di sekeliling daerah itu untuk mencari bekas-bekas pencuri-pencuri itu. Tiba-tiba saja Aldo menemukan gelang Tiara yang terlepas.
Aldo : “Hai, lihat!” (berteriak)
Farel : “Ada apa?” (berlari mendekati Aldo)
Aldo : “Lihat ini!” (menunjukkan gelang milik Tiara kepada teman-temannya)
Alexa : “Sial!” (memukul telapak tangannya sendiri) “Ayo kejar meraka, mungkin saja belum jauh!”
Aldo : “Iya, tapi ke mana mereka membawa Tiara dan Ratih?”
Alexa : (menatap kamera) “Teman-teman, kita butuh bantuan kalian. Ke mana para penculik itu membawa Tiara dan Ratih? Ke sana? Atau ke sana? (gaya Dora) “Betul, ke sana!” (menunjuk jalan ke arah jalan raya).
Mereka telah mencari hingga tepi hutan, tetapi tidak berhasil menemukan Tiara dan Ratih. Namun, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Bu Made yang telah menyusul ke hutan itu.
Ibu : (melihat Farel kemudian menghampirinya dan memaki-makinya) “Dasar anak muda gak punya tanggung jawab! Coba kalo kamu tidak maksa Tiara untuk ikut, semua ini tidak bakal terjadi kan!” (marah sambil menunjuk-nunjuk Farel)
Alexa : (senang melihat Farel dimaki-maki)
Farel : “Iya, tapi….”
Ibu : “Alah!” (berusaha mendorong Farel, tetapi malah terpeleset) “Kamu ini memang pembuat sial!” (sangat marah)
Alya, Alexa, dan Aldo: (mengumpat tertawa)
Farel : “Saya akan menemukan mereka!” (berteriak)
Ibu : (kaget)

Scene 13 (setting: hutan cemara)
Sementara itu Ramon dan Nesya telah berhasil mengejar Ratih dan Tiara. Sehingga terjadilah acara kejar-kejaran.
Ratih : (mengeluarkan kelereng dari dalam ransel dan melemparkannya ke belakang sehingga Ramon dan Nesya menjadi terpeleset)
Ramon dan Nesya: (terpeleset kemudian mengejar lagi)
Akhirnya Ratih dan Tiara berlari ke tengah hutan dengan cepat sehingga Ramon dan Nesya tertinggal jauh. Akhirnya Tiara dan Ratih bertemu dengan Bu Made dan teman-temannya.
Tiara : “Mami….!!” (menangis, berlari ke arah ibunya)
Ibu : “Kamu gak apa-apa kan?”
Tiara : “Gak apa-apa Mi, tapi…”
Ratih : “Cepat, penculik-penculik itu sudah dekat!”
Alexa dan Alya: “Apa?”
Aldo : “Lari..!!!” (semua berlari, tetapi Aldo dan Alexa terpisah dari kawan-kawannya).
Nesya : “Kejar mereka berdua saja, Ramon!” (berlari mengejar Aldo dan Alexa).
Ramon : “Jangan! Tujuan kita adalah Tiara!”
Nesya : “Gak mau!” (tetap mengejar Aldo dan Alexa).
Terjadilah dua peristiwa kejar-kejaran. Nesya mengejar Aldo dan Alexa, sedangkan Ramon mengejar Bu Made, Tiara, Ratih, Farel, dan Alya. Saat itu…
Alexa dan Aldo : “Wa……!!” (berlari ketakutan).
Nesya : “Wu….wu…wu…” (mengejar dengan gaya Indian, tetapi tiba-tiba ia kehilangan jejak mereka).
Alexa dan Aldo: (menyamar menjadi patung di sebelah patung asli dengan menggunakan pakaian hitam).
Nesya : “Di mana ya mereka?” (berhenti di depan patung).
Alexa : “Tu….utt” ( kentut).
Nesya : “Suara apa tuh?” (bingung).
Farel : “Wah bau….!!” (berlari).
Nesya : (menoleh ke arah Alexa).
Alexa : “he….” (meringis, kemudian berlari) “Wa… lari…!!”
Sementara itu…..
Alya : “Cepat sembunyi sini!” (berlari ke arah dinding suatu rumah kemudian mengeluarkan kain putih untuk bersembunyi mereka).
Ramon : “Ke mana mereka? Kok tiba-tiba hilang!” (berhenti di dekat dinding kemudian berlari mencari kembali).
Ratih : “1….2….3….” (berbisik).
Ibu : “Lari……!!” (berteriak).
Ramon : (mendengar suara Bu Made lalu berbalik mengejar mereka).
Dalam peristiwa kejar-kejaran itu, Aldo dan Alexa kembali bertamu dengan teman-temannya. Namun, Ramon dan nesya tidak berhasil mengejar mereka. Saat itu…
Ramon : “Di mana mereka?” (bergumam sambil berjalan mundur).
Nesya : (berjalan mundur dari arah yang berlawanan hingga akhirnya mereka bertabrakan).
Ramon dan Nesya: “Wa…..!!!” (kaget dan masing-masing berlari ketakutan).
Setelah sadar akhirnya mereka saling mendekat.
Ramon : “Nesya?”
Nesya : “Ramon? Kamu tuh jangan ngagetin gitu dong!!”
Ramon : “Kamu itu yang ngagetin, jelek!”
Nesya : “Ih, kamu itu yang jelek. Ramon jelek terjepit ketek gak bisa melek, wee…ekk!” (mengejek).
Ramon : “Kamu itu udah berani ya sama aku!” (marah, mengambil ranting untuk memukul Nesya).
Nesya : (berlari).
Ramon : (mengejar) “Sini jelek, tidak usah berlari ya!”
Nesya : “Wa…!!” (berlari dan bersembunyi di balik pohon).
Ramon : (mencari dari pohon ke pohon hingga akhirnya menemukan Nesya).
Nesya : “Stop…stop…!!” (menhentikan Ramon sebelum akhirnya berhasil memukulnya) “Kita ini mau menculik apa mau main kejar-kejaran sih?”
Ramon : “Iya ya? Ya udah ayo kita kejar mereka!”
Ramon dan Nesya: (berlari mencari Aldo dan kawan-kawan sambil berteriak gaya Indian kesukaan mereka) “Wu….wu…wu…”
Sementara itu Aldo dan kawan-kawan telah bersembunyi untuk membuat jebakan. Hingga akhirnya Ramon dan Nesya telah sampai ke tempat tersebut.
Farel : (mengambil tali di dalam tasnya) “Aldo tangkap!” (melemparkan tali ke arah Aldo)
Kemudian, bugh….. mereka jatuh tersandung perangkap Farel dan Aldo. Kemudian kedua penculik itu diikat di sebuah pohon. Dan Nesya menjadi pingsan karena seekor kucing diletakkan di dekat Nesya oleh Tiara.
Semua : “Ha…ha…ha…!!” (tertawa)
Tiara : “Makasih ya Rel, kamu sudah nolong kami!”
Farel : “Udah gak apa-apa kok, kan aku yang menyebabkan semua ini!”
Ibu : “Maaf ya, ibu udah berburuk sangka sama Nak Farel!”
Kemudian mereka semua kembali ke kota. Dan kedua penculik tersebut telah diamankan oleh polisi.


----------tamat----------

bintang darah

Perih,
Tersaksi deretan kereta kencana
Dalam bayangan pelupuk mata
Secercah ayat-ayat doa beriring dalam kalbu

Hancur,
Rasa ini pecah berkeping-keping
Dalam keindahan taburan mawar

Mama,
Kau tlah kembali ke singgasana
Dalam sekedip mata
Aku tak tahu ketampakkan hatimu
Dalam baringan terbujur kaku

Derai-derai tetes mata ini,
Takkan mampu hapuskan memori
Kasih sayangmu
Buaian cintamu
Bagaikan bintang dalam ujung darah

Entah,
Ku tak sanggup hentikan isak
Karena kaulah kesempurnaanku

OLEH IMAM ANDRIAN RISOYO
Tugas Bahasa Indonesia kelas XII
SMAN 1 Depok jogja

arya penangsang

Arya Penangsang iku kadipaten Jipang Panolan nyata sekti mahambara, bebasan tinatah mendat jinara menter ora tedhas tapak palune pandhe sisaning gurenda. Kadigdyane pilih tandhing awit saka wejangane Sunan Kudus. Agemane wujud wangkingan kang dadi sipat kandeke aran Kyai Brongot Setankober tansah disengkelang saya nambahi kawibawane. Ing bab sampurnane ulah kanoragan ora dimerekake siswa-siswa liyane.
Amarga pancen dheweke wiwit cilik tansah dituntun, digembleng sarta ginadhangake bisoa nyekel panguwasa ing tanah Jawa dening Sunan Mranti ya Sunan Kudus.
Mung emane Arya Jipang watake brangasan ora sabaran, cengkiling mara tangan. Tandange sok grusa-grusu lan binobot tuna dungkape.
Ing wayahe lagi angeca-eca nglaras rasa dhahar kesaru krungu wong gero-gero nangis kelaran. Awit saka keparenge sang Adipati kang sesambat kaiden marek. Gurawalan abdi dalem njero sumusul, bebasan abdi kang kinarsakake.
Kaget Arya Jipang Panolan pirsa pekathik kang sambat-sambat awake gudras getih. Pekathik nyembah ngambung lemah, tangane sing siji nutupi kupinge sing tatu irisan.
“Pekathik, ngapa sesambat gawe kaget?” pandangune karo isih nerusake dhahar.
“Dhuh Gusti pepundhen kula, agul-agule para soreng Jipang Panolan. Mugi tinebihna ing pidana angluberna ing pangaksama,” ature pedhot-pedhot.
“Hah aja kakehan cengkok. Elekna mripatmu uliren nalarmu. Lamun ora tak ngapura wis tak tugel gulumu marga gawe kagetku. Aku butuh wangsulan, apa sababe gembar-gembor awakmu gudras getih,” ngendikane sara medhot ature pekathik. Pekathik lali larane, wedi wel-welan cayane abang mori.
“Gusti, nalika kula saweg ngrumput, kuping kula dipun iris tiyang,” ature ora lancer.
“Sapa sing ngiris, apa sababe, apa kowe nyolong marga kurang peparingku?”
“Mbo-mboten Gusti. Kuping kula dipuniris dipun gantos nawala,” ature pekathik ora sampurna, jempole nuduhake nawala kang dislempitke ing iket sandhuwure kuping sing diiris.
Menyat Arya Penangsang nyaut nawala banjur dibukak, gya winaca.
“Heh mundura Penangsang Jipang Panolan.
- Ing prang anggirisi
- Nanging lamun sira
- Wus sekti mandraguna
- Sutawijaya kang wani
- Tepi narmada
- Sore angenti tandhing.”
Brebel abang mangar-mangar pasuryane Arya Penangsang. Sast pulih tulisane mangsi abang Dupi antuk layang panantang. Sikile nggedruk nganti jogane dhekok sak lumping. Tangane nggebrak meja, mawut pepancen kang ana meja, nganti lali yen lagi dhahar.
“Heh Danang Sutawijaya. Kaya lanang-lananga dhewe, bocah sore wingi wani nantang.”
Soreng yuda, abah-abahana Gagak rimang.
Abdi soreng sing atine kekes kaya dijos es batu, sanalika cekekal tumandang gragap-gragap astane Arya Penangsang eling pusaka piyandele kyai Brongot Setankober. Bareng wis cetha yen isih disengkelit brabat metu. Tekan njaba nyaut kendhali nyengklak titihan.
Gagak rimang dudu sembarangan jaran. Pawakane gedhe dhuwur, ules ireng ngelar kombang. Kejaba tegare pilih tandhing atine wis jumbuh karo bendarane. Kepriye sing disasmitakake dening bendarane tansah cocok, gawe mareme. Mula gotheking akeh jaran kelangenane uga duweni kaluwihan saengga ora ana sing wani nunggang awit saka ringase.
Nanging wektu kuwi Gagak rimang ora kaya padatan. Kaya-kaya mbangkang prentah. Upama bisa caturan bakal kewetu tembung:
“Oh, Gusti bendara kula. Penjenengan sampun kesesa naming kadereng ing manah bureng. Bilih badhe andon yuda kedah sangu saha serep ing samukawisipun, kanthi petang ingkang mremet agal lan alusinipun. Menawi ngantos nilar ing kaprayitnan tundhonipun badhe damel apes.”
Nanging gandheng kewan ora bisa tata jalma bisane mung mbelot ora tumandang. Arya Penangsang kang ora tanggap solahe jaran malah saya waringuten. Agahan ndudut cemethi gya sineblak sarosane. Bawane wong kang wis nutug tarak brata ulah kanoragan, swarane cemethi keprungu jumedher kaya mbledhose bedhil Aka.
Jenggirat! Gagak rimang njola kena cemethi. Kupinge njepiping, matane pendiringan. Tuwuh sipat asale, lali mring bendara. Brubut playune sasat lunik. Kesampar tracake Gagak rimang kricak-kricak pating pencelat. Lemah teles pating pencorot, lemah garing kumebul dadi bledug. Nganti saka kadohan mung katon bleduge kang mabul-mabul kaya asepe solar.
“Sutawijayaaa………mrenea jebeng! Tak odhol-odhol wadhukmu. Iki Arya Penangsang, gegedhunge Jipang Panolan!” pambengoke saka kadohan.
Kocap Sutawijaya kang wus satata ing perang, ora mangsuli. Saka kadohan ngathung-athungake tumbake. Manut krenahe Ki pemanahan, Jurumartani lan Panjawi kang mremet petung agal aluse. Sakabehing kedadeyan ing peperangan iku bakal klakon kaya sing diangen-angen.
Gagak rimang sing wis tuwuh sipat asline, bareng weruh jaran wadon sing ditumpaki Sutawijaya kegugah birahine. Datan taha-taha sanalika ngrubyuk nyabrang kali Sore arep ngrabeni. During kongsi tekan pentasan tumbake Sutawijaya mapak njojoh wetenge Arya Penangsang, tanpa mindho gawe Sutawijaya nyendhal lising jaran, klepat mbedhal angedoh!
Arya Penangsang sing during kober endha, kena tumbak ing lempenge, getihe mancur, ususe mbrodhol. Tatune ora dirasakake, ususa nglawer digubedake ing mendhok kyai Brongot Setankober. Kendhali sinendhal ngenget, jaran mlumpat mburu mungsuh. Playune saya banter, ciptane mung bisa enggal males. Gagak rimang pancen jaran pilih tandhing, sedhela wae Sutawijaya wis ketututan.
Sutawijaya kang during winayah ing babagan perang tandhing kena disaut dicengkerem saka mburi.
Kang ndulu kahanan padha ngedhap yen Sutawijaya bakal nemahi pati. Atine Ki Panjawi kumitir, saiba dukane Sinuwun pajang lamun putra angkate tumekeng pralaya.
Ki Pemanahan lan jurumartani megeng napas, bisane mung mupus marang sakabehing kodrat.
Awit saka adreng lan ubaling kanepson marang bocah kang dianggep kumenthus, Arya Penangsang lali marang pribadhine kang wus nadhang tatu. Grayah-grayah tangane ndudut keris kyai Brongot Setankober. Landheping pusaka mbeset usus kang wis muntel-muntel nggubet sanalika pedhot rantas, kang banjur nemahi pati. Gumebrug layone Arya Penangsang ketindhihan Sutawijaya kang tiba krengkangan.
Kanggo ngeling-eling peperangan wong Mataram yen ngagem keris banjur disampiri reroncen kembang kaya Arya Penangsang kang lagi ngrangsang perang.
Liput panjangkane Arya Penangsang sing kepengin jumeneng ratu, sirnane nemahi cunthel critane.
karya imam andrian lan kanca2
Kapethik saka: Panjebar Semangat edhisi: 6, 1981
kanggo tugas basa jawa ing kelas X
SMAN 1 Magelang

aves

 PENDAHULUAN
Aves beranggotakan kurang lebih 9000 spesies. Burung tidak memiliki gigi dan hanya memiliki ekor. Telur termasuk hewan ovipar yang menghasilkan telur amniotic bercangkang keras.

 KERAGAMAN BURUNG
Klasifikasi burung didasarkan atas:
# tipe paruh
Contoh: burung kolibri yang memiliki paruh panjang.
# tipe kaki
Contoh: burung elang yang memiliki cakar tajam.
# habitat
Contoh: penguin yang memodfikasi sayapnya seperti dayung.
# tingkah laku
Contoh: burung berkicau yang suka bertengger.

 STRUKTUR DAN FUNGSI ALAT TUBUH
Burung adalah hewan yang berbulu. Ada dua jenis bulu, yaitu bulu terbang dan bulu bawah yang berguna untuk menghalangi hilangnya panas tubuh. Hal terseburt penting karena burung termasuk hewan homeoterm, yaitu hewan yang memelihara suhu konstan dan relative tetap tinggi sehingga tetap dapat aktif walau di cuaca dingin.
Bulu dibedakan menjadi beberapa macam:
a) Plumae
Bulu yang memberi dasar bentuk tubuh yang berada pada sayap dan ekor. Berfungs untuk terbang.
b) Plamulae
Bulu pada burung muda dan pada burung yang sedang mengerami telur. Berfungsi sebagai isolator.
c) Filoplumae
Bulu yang memilik rambut yang tumbuh di seluruh permukaan tubuh. Berfungsi sebagai sensor.
Burung memiliki apteria, yaitu permukaan kulit yang tidak berbulu. Sedangkan permukaan yang berbulu disebut pterilae. Paruh dapat menggantikan fungsi rahang serta mempunyai leher ramping. Tulang dada burung agak luas untuk penyeimbang tubuh dan dilengkapi otot kuat untuk terbang. Otot memperoleh energi melalui oksidasi di dalam tubuh. Oksigen tersebut mengalir satu arah melalui kantong udara dan paru-paru. Fungsi kantong udara untuk membantu pernapasan ketika terbang, membungkus organ dalam agar tidak kedinginan, mencegah hilangnya panas terlalu banyak , mengatur berat jenis tubuh ketika berenang, dan membvantu memperkeras suara.
System peredaran darah ganda pada burung sudah lebih sempurna karena jantungnya terdiri atas empat ruang dan darah yang kaya oksigen sudah terpisah dari darah miskin oksigen.
Saluran pencernaan burung terdiri atas paruh, rongga mulut, taring esophagus, tembolok, lambung kelenjar, lambung pengunyah, usus halus, usus besar, dan kloaka. Tembolok merupakan pelebaran dari esophagus.]

 PERANAN BURUNG BAGI KEHIDUPAN
1. Daging dan telur unggas merupakan sumber lemak dan protein
yang dibutuhkan manusia.
2. keindahan kicauan dan warna jenis burung tertentu menyebabkan manusia untuk tertarik memeliharanya.
3. Bulu burung tertentu dijadikan hiasan kepala oleh suku-suku masyarakat di Papua.
4. kemampuan terbang burung tertentu diperlombakan.
5. Kulit hewan ternak dapat dijadikan peralatan rumah tangga.

OLEH IMAM ANDRIAN RISOYO
sebagai tugas kelas X
di SMAN 1 Magelang

Jumat, 08 Agustus 2008

my dream land

Good afternoon friends,
Now I want to tell you about my dream land. My dream land is France, especially Paris. Paris has many histories and cultures. Paris is one of many cities with the best tourist objects in the world because there are about 30 millions tourists per year.
So, there are 3 reasons why I want to go there. Firstly, it is because Paris has a beautiful buildings, architecturs and panoramas. The example are Eiffel Tower, Arc de Triomphe, and Place du Tertre.
Eiffel Tower is symbol of Paris. It is very famous in the world. It has twenty thousand lamps and can make beautiful lights in the night. Usually many person like to see it when the light walk from one lamp to another lamp.
Arc de Triomphe is a monument which was built in Place Charles de Gaulle and has twelve crossroads. It has a epigraphy. Usually Many people come there to give a flower or pray.
Place du Tertre is highest place of Paris. It very famous because there are many artist who can make beautiful painting. Place de Tertre also has many café to enjoy the scenery of the mountain.
Secondly, I want to go to Paris because Paris is a mode city. Paris has many fashion factories. The example is Sophie Martin which has exported many clothes to another world.
Thirdly, I want to go to Paris because I want to study in university of Paris. It consist of 13 little universities. University of Paris is one of many prestigious and famous universities in the world. It has the best scientist, politician, physicist.
So, I must do everything to reach my dream. Firstly, I must collect money to travel to Paris because Paris is very far and I need much money to go there. Paris is expensive city with expensive accommodations, transportations, or foods.
Secondly, I will look for many information about scholarship maybe from internet, newspaper, or some information of the foundation. It is the important thing to study in university of Paris because everything in Paris is expensive, such as education cost. And also we know that this university is very important in the world, so I need more money to study there.
Thirdly, I will learn more about France. There are everything about France, maybe culture, language, and the law. We must adapt myself to the culture when we go to somewhere. We also must know the language to communicate with everybody.
I think this is all of my presentation. Thank you for your attention. Good bye!!

oleh imam andrian risoyo
persiapan ujian akhir bisnis 2
beasiswa bahasa inggris di universitas atma jaya
saat masih kelas XII di SMAN 1 depok jogja